Rays Wheels

memuat …

JAKARTA – XL Axiata memiliki kerugian hingga Rp3,3 triliun karena depresiasi setelah mengurangi jaringan 2G. Di sisi lain, XL Axiata terus meningkatkan jaringan 4G.

CEO & Presiden Direktur XL Axiata, Dian Siswarini mengatakan, kerugian terutama disebabkan oleh beban percepatan biaya depresiasi. XL Axiata mencatat kerugian bersih sebesar Rp9 miliar setelah dinormalisasi pada akhir 2018.

"Biaya penyusutan adalah biaya penyusutan yang dipercepat pada kuartal ke-4 tahun 2018. Itu terkait dengan pengurangan penggunaan jaringan 2G, terutama yang telah dimatikan, dibongkar dan usang atau tidak lagi digunakan," katanya, Jumat (7/2). 2/15/2019).

Menurut Dian, program untuk mengurangi penggunaan jaringan 2G adalah bagian dari implementasi strategi transformasi XL Axiata. Di mana di masa depan ia akan lebih fokus pada bisnis data dan menjadi penyedia internet seluler terkemuka di Indonesia.

Program Pengurangan 4G telah dilakukan sejak awal 2018. XL Axiata telah mulai mengurangi jaringan 2G di area tertentu sambil terus mengurangi kapasitas di area lain di mana penggunaan 2G telah menurun.

Langkah itu, katanya, memungkinkan XL Axiata untuk dapat memperbarui sebagian besar spektrum yang sebelumnya digunakan untuk 2G yang sekarang dialokasikan untuk 4G. Inisiatif ini adalah strategi bisnis XL Axiata untuk memodernisasi jaringan yang berkelanjutan untuk memastikan pengalaman dan layanan terbaik bagi pelanggan 4G.

"Percepatan penyusutan ini adalah murni penghapusbukuan akuntansi, sebagai hasil dari masa manfaat yang lebih pendek. Ini juga merupakan item non-tunai yang tidak akan mempengaruhi kelangsungan bisnis atau kemampuan untuk melunasi hutang," jelasnya.

Selain itu, penghematan biaya dari listrik yang lebih rendah dan sewa dan pengurangan biaya penyusutan akan meningkatkan laba bersih XL Axiata di masa depan.

(wbs)