Rays Wheels

memuat …

BANTEN – Tsunami Selat Sunda yang telah mengguncang Banten dan Lampung sangat dicurigai oleh para ahli karena letusan Gunung Krakatau Anak-anak jika dilihat ke belakang adalah wajar. Alasannya adalah ketika Bunda Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883 memicu munculnya tsunami setinggi 40 meter yang menghilangkan 36.000 nyawa manusia.

Seperti dilansir oleh Wikipedia, kondisi geografis dan geologi Indonesia yang terletak di pertemuan 3 lempeng tektonik utama dunia, yaitu: Lempeng Asia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Indo-Australia telah menyebabkan munculnya suatu Fenomena vulkanik yang sangat aktif. Baca: NASA Ingatkan Hujan Meteor dan Gelombang Pasang Surut Air Laut

Dalam setahun letusan gunung berapi akan terjadi tetapi seperti bencana lainnya, keberadaannya sulit diprediksi.

Peristiwa yang tiba-tiba dirasakan oleh orang-orang pada saat itu ketika Krakatau meletus, kejutan dan ketakutan menjadi suasana yang menyelimuti penduduk Hindia Belanda.

Terlepas dari memang kehebatan letusan, nama Krakatau dan Hindia Belanda pada waktu itu menjadi buah bibir di seluruh dunia karena menjadi bencana besar pertama di dunia yang dilaporkan secara global menggunakan media komunikasi telegraf. Sehingga dalam beberapa jam setelah letusan, dilaporkan telah mencapai seluruh dunia. Baca: Tsunami Langka Banten, Kombinasi Bawah Tanah Longsor dan Bulan Purnama

Salah satu fenomena yang disebabkan oleh letusan Gunung Krakatau adalah munculnya tsunami yang dikatakan telah menyebar hingga ke Hawaii, pantai barat Amerika, dan semenanjung Arab. Dengan ketinggian hingga 40 meter, gelombang tsunami membantu mendukung pemukiman di sepanjang pantai Jawa Barat dan Lampung.

Muntah dan abu vulkanik begitu besar sehingga abu vulkanik dapat mencapai Sri Lanka, India, dan bahkan Selandia Baru. Hasilnya adalah cekungan kaldera sepanjang 7 kilometer dengan kedalaman 250 meter di Pulau Rakata. Meski begitu, bukan berarti erupsi paling masif dalam sejarah bumi, setidaknya erupsi krakatau masih kalah dengan erupsi Gunung Tambora dan Gunung Toba. Baca: Para Ahli Setuju Tsunami di Banten Dipicu oleh Letusan Anak Krakatau

Suara letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 seperti ledakan meriam yang terdengar hingga Australia dan Pulau Rodrigue di Afrika. Debu vulkanik mengelilingi atmosfer bumi sehingga dunia tenggelam dalam kegelapan total selama 2 hari penuh.

Dalam kegelapan total 2 hari penuh lahir salah satu karya sastra terkenal berjudul Frankestein, yang awalnya merupakan kisah lisan penulis yang terlibat dalam perlombaan untuk menyusun cerita-cerita horor untuk membunuh kebosanan akibat malam yang panjang. Sampai berbulan-bulan kemudian matahari tampak redup yang kemudian memicu perubahan iklim global, salah satunya menyebabkan gagal panen di seluruh dunia.

Ternyata letusan pada tahun 1883 bukanlah letusan pertama untuk Krakatau. Dalam buku Perpustakaan Raja Parwa yang ditulis pada 416 M, diceritakan bahwa ada letusan dahsyat dari gunung yang ditanami Batuwarna (sebutan lain untuk Krakatau Kuno) yang menciptakan badai, banjir besar, dan bahkan membelah pulau Jawa (Jawa). dan Sumatra masih bersatu dan disebut Pulau Jawa) sehingga pulau itu terbagi menjadi dua, yaitu Jawa dan Sumatra. Baca: Purnama Penyebab Tinggi Tsunami Banten Melampaui Tsunami Palu?

Letusan besar-besaran Krakatau pada tahun 1883 adalah letusan terakhir dari serangkaian letusan gunung berapi sebelumnya. Tetapi itu belum benar-benar berakhir, karena penampilan gunung ini dalam bentuk gunung yang terus tumbuh dan membesar disebut Anak Krakatau.

(wbs)