Rays Wheels

Memuat …

Setiap hari Wawa (5) seorang gadis kecil menarik perhatian teman-teman sekelasnya di TK karena perilakunya yang aktif. Ketika orang lain berbaris, Wawa lebih suka berlari dan bermain sendiri. Ini terjadi sejak hari pertama sekolah hingga periode empat bulan sekolah.

Awalnya, sang ibu, Siti Hajar mengira masa adaptasi itu membuat anak masih membutuhkan waktu untuk mengenal lingkungan baru. Tetapi Siti menyadari bahwa apa yang terjadi pada Wawa mungkin disebabkan oleh terus menggunakan perangkat sepanjang hari. "Saya sibuk membuat pesanan kue jadi saya hanya memberikan ponsel HP sehingga tidak mengganggu," kata SH.

Sikap Wawa memang terlihat berbeda dari usianya. Bukan tipikal anak-anak yang ceria tetapi tampang amarah dan dendam terlihat. Ini terjadi jika perangkat diambil karena mereka harus pergi ke sekolah. Jadi ketika dia tiba di sekolah Wawa, dia selalu memberontak.

Terkadang Siti sulit dibujuk sehingga apa yang dilakukan agar Wawa masuk kelas adalah membeli mainan yang dijual di depan sekolah. Satu-satunya cara yang berhasil untuk membuat Wawa mengikuti arahan guru. Ketika dia kembali ke rumah Wawa lagi meminta alat atau dia akan berteriak sampai dia menangis.

Banyak saran yang datang ke Siti untuk membuat Wawa bisa lepas dari perangkat salah satunya adalah segera pergi ke psikiater. SH masih mengumpulkan niat besar untuk siap pergi ke psikiater atau psikiater.

Lahargo Kembaren Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor yang kecanduan yang telah dapat mengganggu aktivitas dan menyebabkan emosi yang berlebihan dapat segera dikonsultasikan ke psikiater atau psikolog.

"Kesadaran orang tua untuk segera membawa anak-anak mereka ke psikiater sekarang mulai meningkat. Mereka sudah mulai sadar dan peduli. Mengetahui tentang kesehatan mental walaupun masih ada stigma jika datang ke psikiater berarti gila. Tapi belum tentu karena semua harus dikonsultasikan, "kata Lahargo.

Kecanduan perangkat adalah penyakit yang harus diobati bahkan jika rawat inap diperlukan. Dia menjelaskan, gangguan kecanduan adalah penyakit yang menyerang bagian otak. Di saraf otak ada juga bahan kimia yang disebut neurotransmitter yang tidak stabil ketika Anda sakit. Itu sama dengan pecandu narkoba, neurotransmitter yang membuat Anda bahagia.

Pecandu perangkat memiliki perasaan senang, tetapi ketika neurotransmitter mengurangi rasa ingin terus menggunakan, jika tidak ada akan dicari. "Untuk mengatasinya, kami akan menyediakan obat-obatan, jangan lupa terapi untuk mengubah pola pikir perilaku dan perasaan. Akhirnya, jika keparahan gangguan tersebut akan dilakukan rehabilitasi. Ketiga itu bukan tahap, ketiganya bisa dilakukan tergantung pada kondisi pasien, "kata Lahargo.

Perawatan kecanduan yang merusak otak juga bisa disembuhkan dengan menggunakan alat yang disebut Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) yang ditempelkan di kepala. Fungsinya untuk memberikan rangsangan gelombang magnetik di otak. Satu lagi alat untuk menyeimbangkan gelombang di otak atau disebut terapi neurofeedback.

Sekretaris Jenderal Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati juga selalu mengingatkan orang tua untuk selalu kreatif dalam menciptakan game untuk anak-anak sehingga mereka tidak tenang dengan perangkat itu.

"Saya selalu ingin ibu ketika mengasuh seminar. Jangan pernah mengandalkan gadget untuk merawat anak-anak. Kita pasti lelah untuk bisa menemani anak dengan berbagai cara," kata Rita.

KPAI tidak memiliki data tentang masalah kecanduan perangkat karena pelaporan jarang terjadi dalam kasus ini. Selain itu, kecanduan gadget bukan merupakan tindak pidana, tetapi KPAI terus berusaha mendidik orang tua untuk lebih bijak dalam memberikan gadget kepada anak-anak.

Di sekolah, KPAI juga menyoroti keterbatasan. "Peraturan Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi, KPPAI dan KPAI belum secara resmi memutuskan peraturan membawa perangkat ke sekolah sehingga sekolah masih di bawah kewenangan sekolah," tambah Rita.

KPAI mengimbau sekolah yang ingin menerapkan teknologi sebagai alat belajar, sehingga mereka memilih untuk menggunakan komputer di sekolah atau laptop. Sementara itu, Nisa Felicia, seorang peneliti di Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), mengatakan bahwa perhatian pemerintah sangat dibutuhkan untuk selalu mengingatkan orang agar tidak memberi anak secara acak.

"Ini menyangkut perkembangan anak-anak Indonesia, kesejahteraan. Perkembangan anak juga menjadi tanggung jawab negara," katanya. Namun, pemerintah tidak hanya melarang tetapi menemukan solusi. Seperti di Amerika Serikat ada permintaan untuk memberi anak-anak waktu luang untuk bermain gadget hanya satu jam setiap hari. Selebihnya, anak-anak bisa bermain kegiatan lain bersama teman, membaca atau belajar.

"Buat gerakan nasional setelah mempelajari 45 menit seorang anak dapat memainkan gadget 15 menit. Mari kita bermain di luar karena ketika seorang anak hanya memainkan gadget, banyak yang hilang darinya. Anak menjadi tidak berinteraksi, tidak berkeringat, tidak pengalaman yang bertentangan dapat membuatnya belajar menyelesaikan masalah dan mengelola emosi, "kata dosen di Universitas Sampoerna.

Pemerintah diharapkan tidak hanya melarang tetapi memberikan alternatif. Jika pemerintah ingin memberikan gerakan literasi, itu dapat dilaporkan dengan menggunakan perangkat. Sehingga dua pesan dikirimkan sekaligus dalam satu program.

(mengenakan)