Rays Wheels

memuat …

LOMDON – Perubahan iklim menyebabkan gelombang air laut di seluruh dunia menjadi lebih kuat berkat perubahan iklim, sebuah laporan baru memperingatkan bahwa itu bisa menjadi ancaman bagi makhluk hidup.

Ketika dikombinasikan dengan naiknya permukaan laut, risiko kerusakan di wilayah pesisir tumbuh secara signifikan, dan para ilmuwan khawatir tentang kesiapan kita.

Para peneliti telah memastikan bahwa "kekuatan gelombang" global telah terus meningkat sejak 1948.

Para peneliti telah menganalisis iklim laut global, dan menemukan bahwa kecepatan angin dan ketinggian ombak meningkat di seluruh dunia.

Studi ini menunjukkan bahwa peningkatan terbesar untuk gelombang ekstrim (seperti di musim dingin). Tetapi gelombang pada umumnya menjadi semakin kuat terpisah, dan perubahan ini sekarang terkait dengan pemanasan global.

Temuan revolusioner, yang diterbitkan hari ini di jurnal Nature Communications, menyoroti meningkatnya risiko perubahan iklim terhadap manusia.

Studi ini berfokus pada energi yang terkandung dalam gelombang laut. Ini adalah energi yang ditransfer dari angin, dan kemudian diubah menjadi gerakan gelombang.

Para ilmuwan menyebut ini "kekuatan gelombang", dan mengatakan itu terus meningkat seiring dengan pemanasan permukaan laut. Pemanasan permukaan laut Bumi telah mengubah pola angin di sekitar planet kita.

"Untuk pertama kalinya, kami telah mengidentifikasi sinyal global tentang efek pemanasan global dalam gelombang iklim," kata Borja, G. Reguero, penulis utama studi ini, seorang peneliti di University of California.

"Faktanya, kekuatan ombak telah meningkat secara global sebesar 0,4% per tahun sejak 1948.

Kabar baiknya, survei terbaru yang dilakukan di lepas pantai Pulau Sulawesi di Indonesia menunjukkan bahwa beberapa karang air dangkal dapat mengusir dari pemanasan global.

Penelitian yang dipimpin oleh ilmuwan Inggris Dr. Emma Kennedy, menemukan fakta baru bahwa karang di Sulawesi ternyata lebih sehat.

"Sebagai seorang ilmuwan karang, dalam beberapa tahun terakhir pemutihan karang sangat menyedihkan. Sangat menyenangkan melihat terumbu karang di sini seperti ini," kata Emma.

Emma optimis bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan beberapa terumbu karang dengan menargetkan tindakan konservasi berbasis sains.

Dia optimis bahwa Indonesia berada di jantung Triangleyang Karang, rumah bagi keanekaragaman hayati di Bumi. Dalam studi tersebut para ilmuwan menggunakan kombinasi Artificial Intelligence (AI) dan teknologi pencitraan 360 derajat.

Dengan menggunakan kombinasi teknologi ini, para ilmuwan dapat mengumpulkan dan menganalisis lebih dari 56.000 gambar terumbu karang di perairan dangkal.

Selama 6 minggu, Emma dan timnya menggunakan skuter bawah air yang dilengkapi dengan kamera 360 derajat yang dapat menembak hingga 1,5 mil karang, dan totalnya mencapai 1487 mil persegi.

Selanjutnya, para ilmuwan dari University of Queensland menggunakan perangkat lunak AI untuk mengidentifikasi dan membuat katalog gambar karang.

Dengan menggunakan teknologi Depp Learning, mereka mengajarkan AI cara mendeteksi pola kontur dan tekstur gambar karang.

"Penggunaan AI untuk menganalisis foto karang cepat, meningkatkan efisiensi kami. Jika peneliti lain memerlukan 10 hingga 15 menit, dengan AI hanya butuh beberapa detik," kata Emma.

Temuan-temuan dari survei Sulawesi akan membantu para ilmuwan dan pelestari lingkungan menargetkan program konservasi karang di tempat lain di dunia. Dengan sekitar tiga dekade diharapkan ekosistem global akan diselamatkan dari kepunahan.

(wbs)