Rays Wheels

Memuat …

JAKARTA – Jaringan telekomunikasi adalah salah satu bagian pendukung untuk Industri 4.0 atau ekonomi digital. Sayangnya, perbaikan infrastruktur tetap atau broadband sebagai konektor jaringan masih dianggap sebagai "musuh" oleh sebagian orang.

Hal ini diungkapkan oleh Muhammad Arif Angga, Ketua Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Aptajel). Ia mengatakan, secara nasional hanya sekitar 13% dari tingkat kerapuhan infrastruktur kabel di Indonesia. Padahal target pada 2019 bisa mencapai 71%.

"Kendalanya bisa menjadi harmoni regulasi di daerah dan di pusat," kata Arif saat ditemui di Gedung BPPT Jakarta, Rabu (9/10/2019).

Dia memberi contoh di Jakarta. Penataan kabel serat optik di Ibu Kota masih terkendala oleh beberapa regulasi yang berlaku. Dari sisi asosiasi, diharapkan akan ada komunikasi yang baik antara pemerintah daerah, asosiasi dan pelaku usaha lainnya.

"Karena kita harus mengatur ini menjadi lebih baik lagi di masa depan. Tetapi pengaturan ini juga harus melibatkan semua pemangku kepentingan yang ada, sehingga prosedurnya juga benar dan implementasinya sesuai dengan keinginan pemerintah daerah itu sendiri," harap Arif .

Selain Jakarta, kendala yang dihadapi pebisnis juga terasa di Surabaya. Di sana, mereka menghadapi masalah mengklarifikasi sewa tanah yang dirasakan memberatkan operator.

Hingga saat ini, perhitungan dasar untuk tarif sewa belum selesai. "Tapi dunia bisnis butuh kepastian. Angka itu juga tidak bisa membebani operator sendiri," katanya.

Arif menjelaskan, jika biaya sewa tanah membebani operator, itu akan berdampak panjang. Misalnya, hal itu dapat mengangkat kenaikan harga regional di Surabaya. "Yang paling sederhana, akan ada kenaikan harga regional. Kami juga tidak mau. Begitu itu terjadi, masyarakat juga akan menerima dampaknya," katanya.

Kebijakan untuk menaikkan tarif harus diadopsi oleh operator bisnis sehingga mereka tidak kehilangan uang. Hal-hal seperti ini dirasakan diperhatikan oleh Pemerintah Kota Surabaya. "Jaringan ini juga merupakan kebutuhan dasar. Jadi mari kita bahas bersama untuk menemukan solusi win-win," katanya.

Sementara itu, Galumbang Menak, pendiri penyedia kabel serat optik Moratelindo, mengatakan bahwa solusi untuk penataan kabel di Indonesia adalah dengan menggunakan ducting atau joint pole. Tiang sambungan dimaksudkan untuk jalan utama.

Sementara di perumahan, itu juga masih bisa menggunakan kutub. "Tapi pilar-pilarnya tidak harus terlalu banyak. Cukup satu dan gunakan bersama," jelas Galumbang.

Model ini, lanjut Galumbang, telah diadopsi oleh beberapa kota di berbagai negara. Indonesia sendiri sudah ada di dua kota, hanya saja cakupannya masih kecil. "Di Bali hanya 7 kilometer. Jawa Barat, jika totalnya mungkin hanya 17 kilometer," katanya.

(meme)