Rays Wheels

Memuat …

JAKARTA – Sebagai perusahaan yang telah hidup di dunia selama 128 tahun, Royal Philips terus berinovasi dan mengadaptasi model bisnis untuk bertahan hidup.

Sejak 2011-2018 Philips telah mulai melakukan perubahan dengan tidak hanya berfokus pada pencahayaan dan elektronik, tetapi juga pada teknologi kesehatan.

Di Indonesia sendiri Philips telah mengibarkan benderanya sejak 125 tahun yang lalu. Bagi Philips, Indonesia adalah pasar yang penting karena termasuk dalam 16 pasar terbesar di dunia.

Secara global, bisnis Philips dibagi menjadi tiga, yaitu pasar Amerika sebesar 35%, pasar Eropa sebesar 22%, dan pasar yang terus tumbuh sebesar 33% di mana Indonesia termasuk di dalamnya.

"Kami sangat berkomitmen pada inovasi sehingga kami terus berinovasi pada produk kami. Kami juga mengalokasikan 10% dari hasil penjualan untuk penelitian dan pengembangan," kata Pim Pressman, yang baru-baru ini ditunjuk sebagai Presiden Direktur Philips Indonesia.

Pim hanya menjadi pemimpin di Indonesia selama tujuh minggu. Dia telah memiliki karir di Royal Philips selama 17 tahun. Dia pernah ditempatkan di Amerika Latin, dan sebelum dipindahkan ke Indonesia, dia menjabat sebagai Wakil Presiden dan Kepala Hubungan Investor di Philips Corporate Center yang berlokasi di Amsterdam.

"Saya sangat senang bekerja dengan tim di Indonesia," katanya, saat perkenalan kantor Philips Indonesia yang baru di Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Perusahaan yang berkantor pusat di Amsterdam, Belanda, memang saat ini secara agresif memproduksi teknologi kesehatan. Philips memiliki fokus pada penyediaan layanan kesehatan berkelanjutan, mulai dari gaya hidup sehat dan pencegahan, diagnosis, perawatan, hingga perawatan di rumah.

Philips & # 39; Kehadirannya di Indonesia identik dengan pencahayaan dan produk elektronik. Bahkan, di usia 30-an Philips telah membawa peralatan X-Ray mereka ke Indonesia.

Hingga saat ini, banyak inovasi teknologi kesehatan yang diproduksi oleh Philips telah digunakan di Indonesia. "Mungkin itu kurang dikenal karena model bisnis-ke-bisnis. Tetapi bagi mereka yang membutuhkan seperti rumah sakit, Philips terkenal," tambah Pim.

Semua produk Philips yang ada telah berinovasi menjadi digital. Di sektor kesehatan, kata Pim, digitalisasi diharapkan dapat membantu dokter mendiagnosis pasien secara akurat, sehingga mereka dapat memberikan perawatan yang tepat. "Misi kami dapat menyentuh 3 miliar orang di seluruh dunia pada tahun 2030," jelasnya.

Di bidang teknologi kesehatan, Philips mengharapkan kemitraan jangka panjang dengan lembaga kesehatan. "Karena peralatan kesehatan ini mungkin baru berusia 10 tahun. Dengan kemitraan yang panjang, kami ingin dapat terus memberikan pembaruan teknologi kesehatan dari waktu ke waktu," kata Pim.

Berkat komitmennya untuk terus berinovasi, pada 2018 Philips berhasil mencatat pencapaian penjualan sebesar EUR18,1 miliar dan memiliki sekitar 78 ribu karyawan di lebih dari 100 negara.

(wbs)