Rays Wheels

memuat …

JAKARTA – Startup berbasis teknologi, terutama aplikasi, baru-baru ini muncul. Sayangnya, tidak banyak dari mereka yang dapat terus tumbuh untuk memenuhi permintaan pasar.

Menariknya, banyak dari startup ini dibiayai oleh investor dalam jumlah besar. Melihat fenomena ini, lebih baik bagi kita untuk memeriksa strategi yang disarankan oleh para akademisi ini, terutama bagi siswa yang tertarik untuk memasuki bisnis online.

"Kolaborasi adalah kunci keberhasilan mereka yang ingin bertahan dalam menjalankan ide bisnisnya di era digital seperti sekarang," kata Wahyu Hari Aji, Kepala Pusat Kewirausahaan Universitas Mercu Buana (UMB) setelah mengikuti Sisa Menjadi Digital Seminar Pengusaha di Kampus Meruya, Jakarta, belum lama ini.

Katanya, mahasiswa Fakultas Teknik biasanya pintar membuat produk dan mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer yang pintar membuat ide-ide aplikasinya. "Jadi mereka bingung tentang membuat model bisnis seperti itu. Untuk itu mereka membutuhkan mahasiswa manajemen yang akan memberikan strategi pemasaran mereka seperti apa," jelasnya.

Padahal sosialisasi produk harus diserahkan kepada mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi. "Tapi begitu jalannya jalan, tim ini adalah sumber daya manusia yang kuat yang membutuhkan siswa atau orang psikologi. Intinya adalah berkolaborasi dengan orang-orang di luar bidang yang dikendalikan. Jangan merasa kuat. Karena kenyataan banyak pengusaha merasa kuat dan akhirnya jatuh karena mereka tidak bekerja sama, "kata Wahyu mengingatkan.

Kampus UMB sendiri mengarahkan siswa untuk menjadi pengusaha daripada pekerja. "Karena orang yang secara finansial sukses adalah pengusaha. Mengapa kuliah? Ada banyak yang DO perguruan tinggi tetapi adalah pengusaha sukses? Saya katakan, coba hitung berapa banyak yang berhasil tanpa kuliah dan bandingkan mereka dengan ceramah yang baik dan sukses," katanya. .

Seminar ini sendiri diadakan untuk memperkenalkan mahasiswa kepada dunia bisnis online. Harapannya adalah para siswa menjadi tertarik dalam membangun bisnis digital mereka sejak mereka kuliah.

Dalam sesi tanya jawab, Tommy Liputra, CEO dari Shipmall Company, mengatakan, bisnis online memang menantang karena tidak semua startup bisa bertahan. "Kami adalah salah satu dari 1.700 perusahaan rintisan yang terdaftar di Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kami juga baru saja diundang ke Bali bersama dengan 88 bisnis percontohan lainnya oleh pemerintah," kata Tommy.

Dia mengatakan, salah satu kelebihan dari e-commerce adalah tidak menerapkan pembagian margin yang besar bagi produsen yang menjual produknya di sini. Mungkin ini adalah salah satu yang membuat 350 vendor bekerja sama untuk memasarkan tidak kurang dari 7.000 produk di Shipmall.

(mim)