Rays Wheels

KabarOto.com – Kecelakaan di jalan terjadi beberapa waktu lalu yang disebabkan oleh truk yang Over Dimension dan Over Load (ODOL) sehingga terguling dan menabrak mobil di sebelahnya atau menyebabkan tabrakan beruntun.

ODOL juga berada di jalan tol Cipularang beberapa waktu lalu, karena truk ODOL kehilangan rem dan menabrak mobil di depannya. Mengakibatkan banyak kematian. Jadi apa yang menyebabkan truk-truk ini lulus ujian?

Kementerian Perhubungan sebenarnya telah mengeluarkan peraturan dan regulasi tentang tinggi, panjang, dan lebar ideal untuk truk angkutan. Beberapa pemeriksaan seperti buklet, tes berkala setiap 6 bulan juga rutin. Sementara itu, masalah Over Dimension dan Over Load (ODOL) berada di bawah pengawasan personel dan sering dilewatkan karena operator yang telah lulus uji melebihi beban.

Kementerian Perhubungan sebenarnya telah mengeluarkan peraturan dan regulasi tentang tinggi, panjang, dan lebar apa yang ideal untuk truk

Juga Baca: Tingkatkan Keselamatan, Kementerian Perhubungan Bertindak Truk Overload di Jalan Tol

Bahkan sistem telah dibuat sangat ketat, tetapi pengusaha telah menyalahgunakannya dengan menambah kapasitas tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pabrikan. Kementerian Perhubungan memiliki pengawasan terbatas, hanya bisa di jembatan timbang dan juga di terminal, tidak dapat mengambil tindakan di jalan raya. Kementerian Perhubungan telah bekerja sama dengan polisi untuk menindak truk-truk ODOL.

"Jika ditemani oleh Polisi, kita dapat mengambil tindakan di jalan raya, oleh karena itu kami telah bekerja sama dengan polisi untuk mengambil tindakan terhadap truk ODOL yang melintasi jalan raya," kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi dalam sebuah diskusi yang diadakan oleh Otomotif Forum Jurnalis dengan tema, Road to Zero-Odol, Trucks on The Roads, di Donika Cafe, Antasari, Jakarta Selatan (3/10).

Polisi Nasional dan Departemen Perhubungan tidak akan dengan tegas Over Dimension Over Load

Lebih buruk lagi, menurut Budi, operator truk memalsukan buku-buku kiri mereka, sebagian besar pengemudi truk juga hanya membawa fotokopi pendaftaran dan dokumen kendaraan mereka, yang asli hanya surat izin mengemudi. Jadi, jika diambil tindakan, SIM itu ditangguhkan, sedangkan jika ditilang hanya membayar ratusan ribu.

ODOL juga memiliki dampak negatif termasuk jembatan runtuh dan jalan rusak. Kementerian Perhubungan mencatat, pada Agustus 2019, sebanyak 1.246.515 truk memasuki jembatan timbang, dengan rincian 503.866 melanggar dan 742.649 tidak melanggar.

"Di beberapa daerah, pengusaha truk secara sengaja meningkatkan kapasitas transportasi mereka, sementara di Riau, Semarang, Padang, Bekasi hanya sebagian kecil yang dinormalisasi, kami berharap pengusaha dapat menormalkan kendaraan mereka," jelasnya.

Budi menambahkan, kemunculan ODOL terkait dengan daya saing di antara pengusaha atau operator angkutan truk, oleh karena itu perlu ada kesesuaian antara dimensi dan biaya pengiriman, karena menurutnya tidak ada regulasi mengenai biaya dunia untuk logistik. "Nanti kita akan membuat penyesuaian pada peraturan untuk biaya logistik. Jadi cepat atau lambat masalah ODOL akan diselesaikan. Kami telah menyatakan bahwa pada tahun 2021 tidak akan ada lagi truk ODOL," jelasnya.

Baca Juga: Mencegah Kecelakaan Berulang-ulang, Polisi Melakukan Kontrol Truk Overload di Jalan Tol Cipularang

Di masa depan, penuntutan untuk truk ODOL yang mengakibatkan kecelakaan di jalan berdasarkan UU Nomor 22, Operator, Pengusaha dan pengemudi akan dikenakan sanksi selama 1 tahun penjara dengan denda Rp 22 juta.