Rays Wheels

memuat …

JAKARTA – Indonesia saat ini seharusnya menyediakan penyegaran untuk alat deteksi dini bencana tsunami. Lembaga Penelitian Geofisika Kelautan Indonesia (LIPI) Nugroho Dwi Hananto mengatakan bahwa sejak gempa dan tsunami yang melanda wilayah Palu Sulawesi Selatan beberapa bulan lalu, Presiden Indonesia Joko Widodo telah menginstruksikan untuk menyediakan penyegaran untuk sistem peringatan dini di Indonesia.

"Setelah gempa Palu kemarin ada instruksi dari Pak Jokowi untuk membangun kembali dan memodernisasi sistem peringatan dini. Jadi teman-teman saya yang dikoordinir Menteri Komunikasi mengatur lagi modernisasi sistem ini, sehingga mereka bisa berfungsi lebih baik," kata Nugroho ketika dihubungi melalui saluran telepon dengan SINDOnews, Rabu (26/12/2018).

Dia menyebutkan bahwa yang saat ini termasuk dalam rencana tersebut adalah penggunaan kabel bawah laut atau Cable Based Tsunameter (CBT). Proyek ini masih dalam proses perencanaan.

"Ini masih dalam tahap perencanaan, tidak bisa langsung. Karena ada perencanaan, ada dana, pengadaan, terus ke Bappenas dan sebagainya. Prosesnya masih baru dimulai," tambahnya.

Materi alternatif alat deteksi dini tsunami Deputi Badan Pengembangan Teknologi Sumber Daya Alam untuk Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza, menjelaskan bahwa teknologi kabel bawah laut mengacu pada negara Jepang yang sepanjang pantai timur memasang CBT di dasar laut. . Menurut Hammam, kabel ini memiliki beberapa peralatan sensor.

"Tsunameter Berbasis Kabel ini memiliki beberapa perangkat sensor yang dapat mengetahui tentang tekanan suhu dan kemudian pergerakan arus laut. Sehingga jika ada tsunami dengan ketinggian 3 meter dapat dilacak dari jauh. Kabel akan mengirimkan sinyal langsung ke stasiun langsung di darat mengeluarkan peringatan, seperti alarm, "katanya.

Dia kemudian menyebutkan bahwa ada tiga elemen penting yang mendukung jalannya teknologi ini, yang pertama adalah perangkat keras, perangkat lunak dan brainware. "Untuk sistem deteksi ini, ada 3 perangkat, yang berarti bahwa perangkat keras adalah perangkat komputer, perangkat lunak adalah aplikasi perangkat lunak dan otak ada di otak manusia, perangkat otak yang menjadi pembuat keputusan peringatan dini," jelas Hammam.

Mengenai perkiraan biaya, Hummam memperkirakan bahwa untuk 2000km CBT akan menelan biaya Rp 2,8 Triliun. Harganya memang cukup besar, tetapi itu dengan asumsi membawa semua peralatan kabel khusus. "Tetapi jika Anda menggunakan kabel yang ada, Anda dapat menghemat sekitar 30 hingga 40 persen, dari sana saya perkirakan 2000km menjadi sekitar 2 triliun," pungkasnya.

(wbs)