Rays Wheels

memuat …

TOKYO – Pemerintah Tokyo telah memberdayakan sejumlah robot untuk membantu pengguna layanan kereta bawah tanah di sini. Inisiatif ini dalam persiapan untuk Olimpiade Jepang 2020.

Seperti dilansir USNews, robot bernama Arisa memiliki ketinggian 182 sentimeter dan dapat berbicara bahasa Jepang, Inggris, Cina dan Korea untuk memberikan informasi tentang rute kereta, tempat wisata dan arah ke toilet.

Jepang juga mempekerjakan 10 robot sebagai resepsionis. Robot itu sangat mirip manusia. Nantinya robot akan menyambut tamu, mengangkat tas, dan bahkan membersihkan kamar setelah tamu pergi.

Dengan wajah dan tubuh perempuan yang sangat realistis, robot ini dirancang untuk mengobrol dalam sejumlah bahasa dan menjawab tamu hotel & # 39; pertanyaan. Kehadiran hotel adalah untuk menyediakan pengalaman berteknologi tinggi bagi para tamu. Suhu kamar juga dimonitor oleh teknologi yang dapat mendeteksi panas tubuh. Menurut kepala perusahaan Henn-na, Hideo Sawada, robot akan menjalankan 90% tugas di hotel.

"Kami akan menciptakan hotel paling efisien di dunia," kata Sawada kepada Japan Times. Nantinya para tamu dapat meminta layanan robot hanya dengan menggunakan aplikasi di ponsel. Dengan demikian, Henn-na akan menjadi hotel di Jepang yang pertama kali dijalankan oleh robot. Henn-na yang berarti "ganti" atau "aneh" dalam bahasa Jepang memiliki 72 kamar.

Sewa kamar per malam hanya 40 pound. Wisatawan dapat memesan kamar melalui online. Sementara itu, mengembangkan teknologi hotel adalah perangkat pengenal wajah untuk membuka pintu sehingga para tamu tidak lagi membutuhkan kunci kamar. Teknologi ini dikembangkan oleh GTRIIP, sebuah perusahaan dari Singapura.

Mereka mengembangkan layanan check-in tanpa kertas atau menggunakan fitur biometrik pada ponsel. Para tamu dapat check-in dengan aman di hotel-hotel tertentu yang menggunakan layanan Apple Touch ID yang membaca sidik jari dan kemudian mengakses informasi pemesanan yang tersimpan di perangkat mereka.

Para pendiri perusahaan, Maxim Thaw Tint dan Stanley Myo Lwin, mencetuskan ide itu setelah belajar dari pengalaman pribadi. Mereka beberapa kali sangat frustrasi dengan proses check-in hotel yang membutuhkan berbagai dokumen identifikasi dan bukti pesanan.

(wbs)