Rays Wheels

KabarOto.com – Mungkin sebagian besar teman KabarOto sering mendengar kata understeer dan oversteer, dua hal yang berkaitan dengan kondisi menyetir. Lalu apa arti sebenarnya dari dua kata ini? Beri tahu kami lebih dalam, dan cara mengatasinya.

Adrianto Sugiarto Wiyono dari Indonesia Defensive Menyetir The Centre (IDDC) mengatakan bahwa understeer dan oversteer adalah bagian dari kondisi yang disebut skid atau yang biasa dikenal dengan slippage.

"Yang dimaksud dengan slippage adalah hilangnya traksi antara permukaan ban dan permukaan jalan sehingga pergerakan kendaraan tidak akan mengikuti kemauan pengemudi," kata Adri. Slip ini sendiri dapat dibagi menjadi 3 jenis:

1. Pengereman Skid, yang disebabkan pengereman yang terlalu kuat sehingga roda terkunci atau berhenti berputar.
2. Kekuatan Skid, terjadi karena terlalu banyak atau akselerasi mendadak.
3. Memojokkan Skid, terjadi karena kemudi kasar atau agresif saat menikung.

Baca Juga: Waspadai Bahaya Aquaplaning di Musim Hujan, Jangan Berasal dari Terabas yang Terendam Air!

"Tidak seorang pun dari sopir mengharapkan untuk menghadapi kondisi licin, karena membuat keputusan yang salah dan bertindak dalam sepersekian detik dapat menghasilkan hasil yang berbeda seperti bumi dan langit," kata Adri.

Slippage dapat diperbaiki jika kita sebagai pengemudi mengetahui penyebabnya dan dilatih dalam hal ini, sehingga tidak hanya berbekal keberuntungan. Dalam hal understeer dan oversteer, secara umum. disebabkan oleh kemudi kasar ketika bermanuver di tikungan.

Ilustrasi pengertian

Penjelasan singkatnya, understeer adalah slippage yang terjadi di roda depan, sehingga kendaraan tidak akan mau berbelok ke arah yang diinginkan.

Sementara oversteer adalah kebalikannya, selip yang terjadi adalah pada roda belakang, sehingga roda belakang dapat menyalip ke arah roda depan, contoh sederhana seperti drifting.

Ilustrasi oversteer

Lalu apa yang bisa dilakukan jika ini terjadi? Yang terpenting, jangan panik. "Jika penyebabnya hanya steering, maka kita bisa melakukan steering counter, kemudian mengarahkannya ke arah yang ingin kita tuju," kata Andri.

Mengurangi jumlah sudut kemudi juga akan membantu ban depan untuk mendapatkan pegangannya kembali.

Jadi jangan terus memutar setir, tetapi kurangi agar ban mendapatkan traksi lagi. Semakin banyak kemudi dihidupkan, semakin tepatnya mobil sulit dikendalikan.

Tapi di lapangan, itu bisa saja tergelincir yang kebetulan menjadi kombinasi dengan hal-hal lain, misalnya skid pengereman (selip karena rem penuh pada sistem non-abs).

"Jika ini yang terjadi, maka yang harus Anda lakukan hanyalah melonggarkan tekanan pada pedal rem dan melakukan perlawanan. Kemudian lakukan pengereman lagi dengan lancar dan kembalikan setir ke arah semula, yang kami harapkan," saran Andri.

Nah, jika kombinasi dengan power skid, yang merupakan kelebihan daya karena menekan gas juga, penanganannya sedikit berbeda

"Dalam kondisi seperti ini, selain meja kemudi, akselerator juga perlu santai untuk ditekan lagi sesuai kebutuhan," kata Adri.

Baca Juga: Profil – Kompetisi BMW M2, Ini Dia Harga dan Spesifikasi Lengkapnya!

Kebanyakan proses pengereman idealnya dilakukan pada garis lurus sebelum berbelok. Pengereman yang terlambat dan melakukan sebagian besar pengereman di belokan akan meningkatkan beban kerja ban depan yang berputar.

Terutama saat pengereman, beban mobil akan berada di depan. Ketika itu terjadi, biasanya understeer atau oversteer akan terjadi.

Tak kalah penting, perhatikan juga kondisi ban kendaraan. Ban yang telah habis atau botak, akan menyebabkan potensi slip meningkat.