Rays Wheels

memuat …

JAKARTA – Akses data tentang masjid dan musala di Indonesia kini lebih lengkap dan dapat diakses secara umum secara online melalui aplikasi Sistem Informasi Masjid (Simas).

Hingga kini ada 511.899 masjid / musala yang datanya telah dimasukkan dalam aplikasi ini milik Kementerian Agama (Kemenag). Semua data masjid dan musala yang disajikan di Simas sudah memiliki nomor ID Masjid Nasional. Data meliputi nomor identifikasi masjid / musala, tipologi, lokasi, dan juga urutan pengumpulan data.

Data tersebut dapat diakses melalui http://simas.kemenag.go.id. "Data tentang Simas juga dilengkapi dengan sistem informasi geografis atau GIS sehingga lokasi masjid / musala dapat dipetakan dengan akurasi yang baik pada peta dunia (citra satelit)," kata Kepala Hubungan Masyarakat Mastuki, Biro Data dan Informasi di Jakarta kemarin.

Dia menjelaskan bahwa Direktorat Jenderal (Ditjen) Kementerian Agama Islam masih terus mendaftar tempat ibadah, masjid dan musala. Pengumpulan data dilakukan melalui Kantor Urusan Agama (KUA) di masing-masing kecamatan.

Untuk memfasilitasi akses publik, pengumpulan data dilakukan secara online melalui aplikasi Simas. "Hingga saat ini data masjid dan musala telah dimasukkan melalui aplikasi Simas sebanyak 511.899, terdiri dari 242.823 masjid dan 269.076 musala," katanya.

Proses sosialisasi dan penginputan data masjid dan musala ke dalam aplikasi Simas telah dilakukan sejak 2014. Namun, Mastuki mengakui bahwa tidak semua masjid dan musala telah direkam. Namun, pengumpulan data terus dilakukan oleh operator di KUA.

Diharapkan semua masjid dan musala di masing-masing kecamatan telah dimasukkan dalam Simas pada tahun 2019. Berdasarkan data terakhir yang dikumpulkan secara manual melalui kantor-kantor regional Departemen Agama di provinsi-provinsi di seluruh Indonesia, ada 741.991 masjid / musala.

Dari jumlah ini, rinciannya adalah 296.797 masjid dan 445.194 musala. Dengan demikian, masih ada sekitar 230.000 data yang masih dalam proses verifikasi dan validasi untuk kemudian dimasukkan ke dalam Simas.

"Ini jelas bukan data final. Karena itu, kami juga mengundang pengurus masjid dan musala untuk secara proaktif mendaftar, terutama bagi mereka yang belum memiliki ID Masjid dan Musala Nasional. Metode ini bisa langsung datang ke KUA terdekat," katanya.

Di setiap KUA, Kementerian Agama telah menugaskan pegawai negeri yang secara khusus bertanggung jawab atas input data (sebagai operator). Mekanisme ini dilakukan untuk memastikan bahwa entri dilakukan dengan benar dan tepat sehingga data yang dimasukkan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, ada juga mekanisme kontrol atau pemeriksaan yang dilakukan oleh administrator pusat melalui akurasi koordinat Google Map. "Jika ada masjid / musala berdasarkan laporan kecelakaan seperti kolaps / hancur, data akan diperbarui.

Pembaruan data tempat ibadah selalu dilakukan seiring dengan perkembangan situasi di lapangan, "jelasnya. Direktur Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama, Muhammadiyah Amin, menjelaskan bahwa kendala yang dihadapi dalam mengumpulkan masjid dan musala adalah HR.

"Ini tidak mudah karena SDM kami terbatas. Tapi kami akan selesaikan secepatnya. Dalam enam bulan ke depan kami menargetkan data input akan selesai," katanya tadi malam.

Muhammadiyah menambahkan, ada kemungkinan bahwa akan ada perubahan data setelah gempa di dua wilayah, yaitu Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah.

"Di dua lokasi ini banyak masjid dan musala terkena gempa, jadi jumlahnya menurun," katanya. Kementerian Agama sangat prihatin dengan pengumpulan data di tempat ibadah ini.